Bismillahirrohmanirrohim…

Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 24 Januari 2013

Sejarah Langen Tayub Tuban


Pada awalnya kesenian ini tumbuh dan berkembang diluar keraton. Seni Rakyat secara langsung, lantaran dari masyarakat kecil saling mengenal secara akrab. Bentuknya sederhana, tidak menbutuhkan pola-pola yang rumit, sehingga untuk memahami tidak memerlukan perenungan, antara penyaji dan penikmat tidak ada batasan. Menurut Serat Miruda karya Pangeran Kusumadilaga, Tarian Tayub berasal dari jaman pemerintah Prabu Suryawisesa. Dikatakan, bahwa setiap Prabu Suryawisesa (Raja Jenggala) masuk ke Puri,beliau dijemput oleh prameswari yang menari ditengah-tengah Balai Paringgitan disertai alunan gamelan Laras Slendro.
Pada perkembangan selanjutnya, (awal abad 20) pesta tari-tarian khusus untuk laki-laki ini mulai menurun, dan akhirnya menghilang dari kota-kota Kraton Jawa. Hal ini disebabkan karena upaya orang Jawa Elit untuk meningkatkan status kesenian Jawa. Mereka menganggap status penari Taledek (sindir) dan praktek Tayuban (tarian) tidak sepadan dengan sebuah kebudayaan yang luhur dan adiluhung.  Pada akhirnya kesenian ini lebih akrab dengan masyarakat pedesaan. Merekalah yang mengembangkan kesenian Tayub sesuai dengan karakter budaya masyarakat setempat. Sehingga Tayub menjadi milik masyarakat pedesaan yang ciri-cirinya atau kekhasannya terbentuk melalui proses kehidupan masyarakat setempat. Misalnya : Tayub Blora, Tayub Tulungagung, Tayub Tuban, Tayub Bojonegoro Tayub Malang, Tayub Surabaya dan lain-lain.
Perkembangan kesenian Langen Tayub khususnya di Kabupaten Tuban mulai digemari eksistensinya oleh masyarakat. Langen Tayub di Tuban lebih akrab dengan sebutan “Sindir” dari pada Waranggana Tayub (Penyanyi sekaligus Penari). Diwilayah Jawa Barat lebih dikenal dengan Taledek/Ronggeng. Diwilayah Surabaya dan sekitarnya menyebut dengan Tandak. Tetapi pada dasarnya sama, yaitu penari perempuan denagn melantunkan tembang-tembang disertai Pengibing terdiri dari tamu laki-laki menari bergantian pada pesta pernikahan, khitanan, sedekah bumi, dan lain sebagainya
Langen Tayub Tuban terdiri dari beberapa pendukung kesenian ini, yang terdiri dari Sindir, Pramugari (sutradara), Panjak (pemain alat musik gamelan), dan tamu laki-laki yang menari. Sindir merupakan kata yang sesuai denagn syair tembang yang kadang menyindir Pengibing atau penonton. Sindir menggunakan pakaian tradisional dan berselendang serta menggunakan konde yang dihiasi dengan bunga-bunga melati yang indah. Sindir akan menyanyikan gending-gending Jawa maupun Gendhing khas Tuban atau lagu sesuai dengan permintaan penonton yang akan ikut menari di dalamnya. Kesenian ini biasanya berlangsung selama satu harisatu malam.
Kesenian Langen Tayub Tuban sangat terkenal karena memiliki ciri khas tersendiri yaitu mulai dari busana penari, Gendhing atau lagu yang sering menceritakan kehidupan masyarakat, tempo musik yang lebih pelan, dan masih banyak yang lainya.
Kesenian Langen Tayub sangat ini mulai jarang ditemui. Tetapi tidak dengan Tuban, Langen Tayub di derah Tuban semakin hari semakin banyak diminati masyarakat dan familiar. Masyarakat Tuban sering memeriahkan hajatannya dengan mengundang Kelompok Langen tayub sebagai Hiburan. Bahkan langen Tayub Tuban pernah diundang untuk datang ke Jakarta untuk memeriahkan sebuah acara disana. Hal ini menunjukan bahwa keberadaan Langen Tayub wajib kita kenali, dan dilestarikan sehingga budaya adiluhung negeri ini tidak akan pernah punah

0 komentar:

 

Blogger news

Blogroll